Rabu, 26 Oktober 2011
Pengorbanan AlicePrrangggg ……Gian melempar piring berisi makanan yang diberikanAlice padanya. Pecahan piring danmakanan berserakan di lantai. Alice mundurkarena kaget.“ Apa pedulimu dengan ku?. Pergi!!!”bentak Gian pada Alice yang membuatnyasemakin kaget.“ Gi, aku tau ini berat, aku ngerti ba …..”“ Tau apa kamu dengan perasaanku.” Gianmemotong kata-kata Alice.” Gak ada satupun yang ngerti gimana perasaankusekarang. gak ada yang peduli dengankubahkan orangtuaku sendiri, dan kamu gakperlu repot-repot memperhatikan.” Giankalap.Alice benar-benar mundur kali ini, belumpernah dia melihat Gian seperti ini. Dia tauGian sedang banyak masalah, tapi dia gaknyangka Gian bisa sekalap ini. gak adagunanya memaksakan diri pikirnya, Gianmungkin butuh waktu sendiri.Setelah Alice pergi, Gian semakin kalap. Diamelempar semua barang-barang yang ada dikamarnya. Gian terduduk di antara barang-barang yang berserakan. Dia muak dengansemuanya. Kedua orangtuanya hanya sibukdengan urusan mereka sendiri, jarang adadi rumah, dan kalau pun mereka pulang,maka mereka cuma bertengkar dan salingmenyalahkan. Mereka sama sekali gak pedulidengan Gian, segala cara udah dilakukanGian agar orangtuanya maumemperhatikannya, tapi tetap gak adahasilnya.Bahkan ketika Gian hampir dikeluarkan darisekolah karena memukuli temannya sampaiharus masuk rumahsakit, orangtua Gianmalah bertengkar dan saling melemparkesalahan. Gian merasa benar-benar putusasa.Dan terakhir yang membuat Gian makintertekan adalah kenyataan bahwa ternyataGian bukan anak kandung orangtuanya, diacuma anak angkat, dan selama iniorangtuanya merahasiakan kenyataan itu.Gian gak sengaja mendengarnya waktumereka bertengkar. Gian gak bisa terimakeadan ini, untuk apa harta yang melimpah,buat apa kehidupan yang mewah, kalaukenyataannya dia gak bahagia.Selama ini, cuma Alice yang selalumenemaninya, Alice adalah temannya darikecil, sama Alice dia menumpahkan semuakekesalannya, tempat dia berbagi suka danduka. Tapi sekarang Gian separtikehilangan kepercayaan, dia gak bisapercaya siapa pun lagi, baginya semuahanya pura-pura.dia benci semuanya.Alice datang besoknya, dia berharap Giansudah tenang lagi. Tapi ternyata dia salah,Gian masih bersikap sama.”Mau apa lagi kamu kesini? Apa kamu gakngerti juga. Udahlah di dunia ini emang gakada yang peduli sama aku, semua cumapura-pura. Pergi sana! Dasar cewe’ gak taudiri. Aku gak mau liat muka kamu lagi!!!””GIAN !!!” alice benar-benar gak bisapercaya dengan apa yang didengarnya.” Ya, cewe’ gak tau diri. Puas !?!?!!.sekarang pergi dari sini!”Alice bagai disambar petir. Dia gak pernahnyangka Gian akan mengatakan kata-kataseperti itu. Alice berlari meninggalkan gian,dia gak bisa lagi nahan airmatanya.Dalam keadaan kalut gian memacu motornyadengan kecepatan tinggi, dia gak punyatujuan, dia Cuma ingin pergi.walaupun gaktau kemana.Sebuah benturan keras menghantam gian.Tubuh gian. Tubuh gian terlempar darimotornya,darah mengalir darikepalanya.gian tidak tau lagi apa yangterjadi.Prrang ....Gelas yang dipegang alice jatuh daritanganya.”Gian.” katanya tanpa sadar.***Gian terbaring di tempat tidurnya,kepalanya dibalut perban. Alice duduk disebelah tempat tidur gian, sudah tiga harigian gak sadar,dan selama itu alice selalumenemani gian,dia gak pernah ninggalingian walaupun Cuma sebentar. Keadaangian sudah membaik setelah sempat kritiskarena kehilangan banyak darah.” Gi, aku tau kamu punya masalah yangberat, tapi kamu salah kalau kamu pikir gakada yang peduli sama kamu. Banyak yangsayang sama kamu, gi.dan kalaupun ituemang bener, kamu masih pumya aku yangselalu peduli dan sanyang sama kamu, akugak akan ninggalin kamu. Tapi kalau kamuemang gak mau ketemu aku lagi, gak pa-pa,kamu gak usah khawatir, kamu gak akanpernah liat aku lagi. cepet sembuh gi.” alicemengecup kening gian dan menghapusairmatanya sendiri.Alice keluar dari ruang serba putih itu,setelah pamitan dengan orangtua gianyang duduk di ruang tunggu, alice pergi,bukan Cuma dari rumah sakit itu tapi jugadari gian.dia sudah memutuskan untukpindah ke Paris dan tinggal bersamaorangtuanya yang bekerja disana, mungkingak akan kembali lagi.Gian mulai membuka matanya, pertamapandangannya masih kabur, kemudian mulaijelas Yang dilihatnya pertama kali adalahorang tuanya yang tersenyummemandangnya.” Gian, kamu sudah sadar sayang?” jelassekali nada lega dalam suara mama gian.” mama.....papa......” kata gian lemah.” maafin mama gian, selama ini mama danpapa terlalu sibuk, kami kurangmemperhatikan kamu, sampai dirumah kamimalah bertengkar.maafin mama gian.” katamama gian, airmata mengalir dipipinya.” iya gian, maafin papa juga. Walaupunkamu bukan anak kandung kami, tapi kamimenyayangi kamu seperti anak kami sendiri,siapa lagi yang kami sayang kalu bukankamu, Cuma kamu yang kami pumya. Maafinmama sama papa, karena kami kamu jadibegini. Alice sudah cerita semuanya, selamakamu koma dia yang menjaga kamu, dia jugayangudah mendonorkan darahnya buatkamu.”” Alice ......dimana alice.” gian separti barutersadar.Mama dan papa gian terdian, mareka gakmenjawab pertanyaan gian.” ma ....pa ....alice mana?” desak gian.” alice udah pergi.” jawab papanya hampirgak terdengar.” pergi? Kemana pa.”” kami gak tau gian, alice gak bilang, diaCuma bilang dai bakal pergi dan gak akankembali lagi kesini, karena dia bilang kamugak mau ketemu dia lagi.” jelas papa gian.” Alice .......” gian gak sanggup ngomongapa-apa lagi, dia ingat waktu dia mengataidan mengusir alice, dia gak nyangka kata-katanya waktu sedang emosi itu udah buatdia kehilangan teman yang sangatmenyayanginya dan rela berkorban demidirinya walaupun dia udah menyakitiperasaan alice,Alice, maafin aku. Kata gian dalam hati.Cuma itu yang bisa diucapkan gian.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar